Emas dinar mungkin pernah kamu dengar saat membahas zakat, mahar pernikahan, atau investasi emas syariah. Bentuknya memang berbeda dari emas batangan yang biasa dijual di toko logam mulia. Dinar berupa koin emas dengan standar berat tertentu dan punya sejarah panjang dalam peradaban Islam.
Lalu, sebenarnya 1 dinar berapa gram? Apakah semua dinar memiliki kadar emas yang sama? Dan kalau tujuannya untuk investasi, apakah dinar lebih menguntungkan daripada emas batangan?
Ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum membeli dinar. Bukan hanya soal berat dan kadar emasnya, tetapi juga harga beli, kemudahan menjual kembali, serta perbedaan antara dinar sebagai koin emas modern dan dinar yang digunakan dalam sejarah Islam.
Apa Itu Emas Dinar?
Dinar adalah koin emas yang dipakai sebagai mata uang pada masa Islam klasik. Koin dinar emas pertama yang dicetak khusus oleh pemerintahan Islam muncul pada tahun 77 Hijriah (sekitar 696–697 Masehi) di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah.
Beratnya satu mitsqal, yaitu sekitar 4,25 gram. Kata “dinar” sendiri berasal dari kata Latin denarius.
Hari ini dinar tidak lagi berlaku sebagai mata uang resmi. Dinar modern adalah koin emas swasta yang dicetak mengikuti pola dinar zaman dulu, dan di Indonesia salah satu produsennya adalah PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Fungsinya lebih banyak sebagai simpanan nilai, mahar, atau pembayaran zakat.
1 Dinar Berapa Gram Emas?
Nah banyak orang yang ingin berinvestasi emas dinar namun belum tahu, 1 dinar berapa emas? Jadi 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas. Angka ini dipakai oleh World Islamic Mint dan diikuti banyak pihak, termasuk Wakala Induk Nusantara di Indonesia.
Selain berat, kadar emasnya juga perlu diperhatikan. Antam menerbitkan dua jenis dinar, yaitu dinar 22 karat (kadar emas 91,7 persen) dan dinar 24 karat (kadar emas 99,99 persen). Beratnya sama-sama 4,25 gram untuk 1 dinar, tapi kandungan emas murninya berbeda.
Contohnya begini, Dinar 22 karat berisi sekitar 3,9 gram emas murni (4,25 gram × 91,7 persen), sedangkan dinar 24 karat berisi hampir seluruhnya emas murni, yaitu sekitar 4,25 gram. Selain 1 dinar, pecahan lain yang tersedia adalah ½ dinar, ¼ dinar, 2 dinar, dan 4 dinar.
Baca Juga: Emas Cukim Adalah: Tips Membeli, Kelebihan dan Kekurangan
Bagaimana Berat Dinar Berubah dalam Sejarah Islam?
Angka 4,25 gram sering digunakan sebagai acuan ketika membahas dinar. Meski begitu, sejarah penggunaan koin emas jauh lebih beragam daripada satu angka tersebut.
1. Sebelum Reformasi Mata Uang Islam
Sebelum memiliki standar mata uang sendiri, wilayah Arab dan sekitarnya menggunakan berbagai koin dari kekuatan ekonomi yang lebih dahulu berkembang. Salah satunya adalah solidus, koin emas Bizantium.
Berat solidus Bizantium umumnya berada di kisaran 4,5 gram, meskipun berat aktual dapat berbeda menurut periode dan kondisi koin.
Pada masa itu, koin perak dari Persia Sasania juga banyak beredar. Koin-koin tersebut menjadi bagian dari sistem perdagangan yang digunakan masyarakat di kawasan tersebut.
2. Masa Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin
Pada masa Nabi Muhammad, masyarakat belum menggunakan satu sistem koin yang sepenuhnya seragam seperti mata uang modern. Koin emas dan perak yang telah beredar tetap digunakan dalam kegiatan ekonomi.
Pada masa Khulafaur Rasyidin, koin yang berasal dari tradisi Bizantium dan Sasania juga masih digunakan, dengan sejumlah penyesuaian pada desain atau tulisan.
Karena itu, kurang tepat jika semua koin emas pada periode tersebut dianggap memiliki berat yang persis sama dengan standar dinar modern.
3. Reformasi Abdul Malik bin Marwan
Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, sistem mata uang mengalami perubahan penting. Sekitar 77 H, dinar emas dengan desain khas Islam mulai diterbitkan sebagai bagian dari reformasi moneter Dinasti Umayyah.
Standar berat sekitar 4,25 gram kemudian menjadi acuan penting dalam pembahasan dinar Islam.
Meski demikian, perubahan sistem mata uang tidak berarti seluruh koin yang pernah digunakan sebelumnya memiliki berat identik. Untuk memahami perbedaan tersebut, penelitian numismatik atau kajian tentang mata uang kuno menjadi salah satu sumber yang relevan.
4. Apakah Berat Dinar pada Masa Nabi Pasti 4,25 Gram?
Pertanyaan ini masih dibahas dalam kajian sejarah dan fikih. Sebagian perhitungan zakat menggunakan standar dinar sekitar 4,25 gram, tetapi penelitian tentang berat koin pada masa Nabi dan hubungan antara standar dinar serta dirham juga menunjukkan adanya persoalan historis yang perlu dikaji lebih lanjut.
Salah satu kajian yang dapat dibaca adalah penelitian Hishamuddin Mohd. Kassim berjudul Revisiting the Gold and Silver Nisab for Zakat: A Numismatic Study of Prophetic Era Dinar and Dirham Weights and Measures, yang terbit dalam Malaysian Journal of Syariah and Law pada 2024.
Kajian tersebut membahas kembali standar berat dinar dan dirham pada periode Nabi serta implikasinya terhadap perhitungan nisab zakat.
Jika tujuanmu mengetahui kewajiban zakat, sebaiknya jangan hanya mengandalkan satu angka berat koin. Perhatikan juga ketentuan nisab yang digunakan dan mintalah penjelasan dari lembaga zakat atau ahli fikih yang kompeten.
Perbedaan Dinar dan Emas Batangan
Sama-sama emas, tapi dinar dan emas batangan punya karakter berbeda. Tabel di bawah ini merangkum perbedaan dinas dan emas batangan:
| Aspek | Dinar Emas | Emas Batangan |
|---|---|---|
| Bentuk | Koin bulat berdesain khas Islam | Batangan atau keping persegi panjang |
| Berat | Tetap: 4,25 gram per dinar (pecahan ½, ¼, 2, 4 dinar) | Bervariasi, dari ukuran kecil sampai besar |
| Kadar | 22 karat (91,7%) atau 24 karat (99,99%) pada produk Antam | Umumnya 24 karat |
| Tujuan utama | Koleksi, simpanan nilai, mahar, zakat | Investasi dan simpanan nilai |
| Status hukum | Bukan alat pembayaran sah di Indonesia | Komoditas investasi |
| Harga beli | Cenderung lebih tinggi dari emas Antam karena dianggap barang koleksi | Mengikuti harga emas harian |
| Penjualan kembali | Bisa buyback ke Antam sesuai harga hari transaksi; di toko emas sering dihargai sesuai kadar saja | Mudah dijual kembali lewat buyback |
| Perlakuan pajak | Berbeda dari emas batangan, cek ketentuan terbaru | Mengikuti aturan PPh Pasal 22 emas batangan |
Dari tabel terlihat bahwa perbedaan terbesarnya ada di harga dan kemudahan menjual kembali. Menurut pemberitaan Kontan, permintaan dinar cenderung stagnan karena harganya lebih tinggi dari emas antam.
Aturan pajak emas batangan sendiri sudah diperbarui lewat PMK 51/2025 dan PMK 52/2025, jadi pastikan kamu cek ketentuan terbaru ke penjual atau kantor pajak sebelum membeli.
Apakah Dinar Cocok untuk Investasi?
Lalu, apakah dinar emas cocok untuk investasi? sebelum membeli, pertimbangkan kelebihan dan kekurangan dinar berikut ini
1. Kelebihan Dinar Sebagai Investasi
Nilai dinar mengikuti harga emas, sehingga ikut terlindungi dari penurunan daya beli rupiah dalam jangka panjang. Ukurannya kecil dan seragam, jadi gampang disimpan dan dibagi-bagi, misalnya untuk mahar atau zakat.
Agar tidak binggung kamu bisa mencari informasi tentang cara berinvestasi emas untuk pemula yang benar agar tidak salah.
2. Kekurangan Dinar Sebagai Investasi
Pertama, dinar bukan alat tukar sah di Indonesia. Bank Indonesia menegaskan bahwa rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah, dan Antam sendiri menyebut dinar sebagai collectible item.
Kedua, harga belinya biasanya lebih mahal dari emas batangan, sehingga kamu butuh kenaikan harga emas yang cukup besar sebelum balik modal. Ketiga, saat dijual kembali, harga bisa lebih tinggi hanya di komunitas pengguna dinar, sedangkan di toko emas sering dihitung sebatas kadarnya.
Jadi intinya, kalau tujuanmu murni investasi dengan biaya serendah mungkin, emas batangan biasanya lebih efisien. Dinar lebih cocok kalau kamu memang butuh koin untuk mahar, zakat, atau memang ingin mengoleksinya.
Tips sebelum membeli Dinar
Beli dari penjual resmi dan minta sertifikat atau kemasan segel. Hitung dulu selisih harga beli dan harga jual kembali (buyback), lalu bandingkan dengan emas batangan.
Jangan gunakan dinar sebagai alat transaksi jual beli, karena itu tidak sesuai dengan UU Mata Uang. Terakhir, informasi di artikel ini bukan nasihat keuangan, jadi sesuaikan dengan tujuan dan kondisi keuanganmu.
Itulah artikel dari Ruang Finansial tentang Emas Dinar. Dibanding emas batangan, dinar punya nilai koleksi dan simpati syariah, tapi harganya lebih mahal dan penjualan kembalinya lebih terbatas.
Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan atau fikih. Untuk memastikan keakuratan informasi mengenai berat, kadar, harga dinar, dan ketentuan zakat, silakan merujuk pada sumber tepercaya dan lembaga berwenang sebelum mengambil keputusan.
FAQ
Bisa. Antam menerima buyback dinar dengan harga pada hari transaksi. Di toko emas biasa, dinar sering dihargai sesuai kadar emasnya saja, jadi harganya bisa lebih rendah dari harga beli.
Referensi:
- Direktorat Jenderal Pajak. “PMK 51/2025 dan PMK 52/2025: Atur Ulang Pajak Emas, Masyarakat Tak Perlu Cemas.” 1 Agustus 2025.
- Islamic Awareness. “Aniconic Gold Coins (‘Reformed Coinage’), Minted by the Umayyad Caliph ʿAbd al-Malik, from 77 AH / 696 CE.” 10 Juni 2007.
- Kassim, Hishamuddin Mohd. “Revisiting the Gold and Silver Nisab for Zakat: A Numismatic Study of Prophetic Era Dinar and Dirham Weights and Measures.” Malaysian Journal of Syariah and Law, vol. 12, no. 1, 2024. https://doi.org/10.33102/mjsl.vol12no1.569.
- Bank Indonesia. “BI Tegaskan Rupiah sebagai Alat Pembayaran yang Sah di Indonesia.” 28 Januari 2021.
- Direktorat Jenderal Pajak. “Pemerintah Tegaskan Konsumen Akhir Tak Dipungut Pajak atas Pembelian Emas.” 31 Juli 2025.

Michael Liu, M.Ec.Dev adalah analis ekonomi dengan pengalaman lebih dari 7 tahun yang berfokus pada investasi emas, saham, kripto, dan obligasi. Menyajikan analisis pasar berbasis data dan referensi tepercaya untuk membantu memahami peluang dan strategi investasi secara tepat.